Beberapa Faktor Yang Bisa Menolong Dalam Mencari Ilmu (1)
Jun 1st, 2009 | By Abu Haidar | Category: Ilmu1. Taqwa.
Taqwa adalah wasiat Allah bagi seluruh manusia baik generasi awal ataupun akhir. Allah berfirman :” Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian, yaitu bertaqwalah kalian kepada Allah, dan apabila kalian kufur, maka sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.” (An Nisa : 131).
Taqwapun merupakan wasiat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam kepada ummatnya. Dari Abu Umamah Al Bahily Radhiyallahu ‘Anhu , dia berkata :” Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam berkhutbah pada waktu haji wada’, beliau berkata :” Bertaqwalah kalian kepada Robb kalian, peliaharalah shalat yang lima waktu, lakukan shaum di bulan Ramadhan, tunaikan zakat harta kalian, dan taatilah pemimpin-pemimpin kalian, maka kalian akan masuk surga.”[1]
Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Salam apabila mengutus seorang amir untuk suatu ekspedisi, beliau suka mewasiatkan secara pribadi untuk bertaqwa kepada Allah dan mewasiatkan kebaikan kepada kaum muslimin yang menyertainya. Generasi salafpun selalu mewasiatkan taqwa dalam khutbah-khutbah mereka dan tulisan-tulisan mereka juga mewasiatkan hal ini ketika akan wafat. Umar Bin Khathab Radhiyallahu ‘Anhu menulis surat kepada anaknya, Abdullah : ” Adapun setelah itu, maka aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah ‘Azza Wa Jalla , karena barang siapa yang bertaqwa kepada-Nya maka Allah akan memeliharanya, siapa yang meminjamkan kepada-Nya, maka Dia akan membalasnya, siapa yang bersyukur kepada-Nya, maka Dia akan menambah nikmat-Nya.”
Ali Radhiyallahu ‘Anhu berwasiat kepada seorang laki-laki, beliau berkata :” Aku wasiatkan kepadamu agar bertaqwa kepada Allah ‘Azza Wa Jalla yang pasti kamu akan bertemu dengan-Nya, yang tidak ada akhir perjalanan bagimu selain Dia. Dialah pemilik dunia dan akhirat.”
Salah seorang yang salih menulis surat kepada salah seorang saudaranya karena Allah :” Adapun setelah itu, aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah yang selalu mengetahuimu di saat kamu menyendiri dan mengawasimu di saat kamu berada di tengah orang banyak. Maka yakinilah Allah selalu memperhatikanmu dalam segala keadaan baik siang ataupun malam. Dan takutlah kepada Allah karena kedekatan-Nya kepadamu dan karena kekuasaan-Nya atasmu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu dalam pandangan-Nya tidak mungkin keluar dari kekuasaan-Nya menuju kepada kekuasaan yang lain atau keluar dari kerajaan-Nya menuju kerajaan yang lain. Perbesarlah sikap waspadamu terhadap-Nya dan perbanyaklah rasa takutmu kepada-Nya. Wassalam.”
Makna taqwa adalah seorang hamba membuat penjaga/penghalang antara dirinya dengan sesuatu yang ditakutinya sehingga bisa menjaga dia dari apa yang ditakutinya itu. Taqwa seorang hamba kepada Allah artinya si hamba menjadikan penghalang antara dirinya dengan murka dan kebencian Allah yang amat dia takuti dengan penghalang yang bisa menghalangi dia dari kemurkaan-Nya dengan cara melaksanakan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi maksiat kepada-Nya.
Ketahuilah bahwa taqwa kadang-kadang disandingkan dengan al birr ( kebaikan ), maka sering dikatakan birr (kebaikan) dan taqwa, seperti dalam firman Allah Ta’ala :” Dan saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa.” (Al Maidah : 2).
Tapi terkadang pula taqwa disebut menyendiri. Maka bila disandingkan dengan birr (kebaikan) maka kebaikan di sini artinya adalah melaksanakan perintah sedangkan taqwa adalah meninggalkan larangan.
Bila taqwa menyendiri maka maknanya mencakup semuanya yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Allah telah menerangkan di dalam kitab-Nya bahwa surga telah disiapkan untuk orang-orang yang bertaqwa, maka ahli taqwa adalah ahli surga, semoga Allah menjadikan kita dan anda termasuk diantara mereka, oleh karena itu wajib bagi setiap insan untuk bertaqwa kepada Allah ‘Azza Wa Jalla dengan cara melaksanakan perintah-Nya , karena mencari pahala-Nya dan agar selamat dari siksa-Nya. Allah berfirman :” Hai orang-orang yang beriman apabila kalian bertaqwa kepada Allah maka Allah akan menjadikan furqon bagi kalian dan akan menghapuskan kesalahan dari kalian serta akan mengampuni kalian. Dan Allah menpunyai keutamaan yang agung.” (Al Anfal : 29).
Di dalam ayat ini terkandung tiga faidah penting:
Pertama ;” Allah akan menjadikan furqon bagimu” artinya menjadikan apa yang menyebabkan kalian bisa membedakan antara haq dan batil, dan antara yang madharat dan yang manfaat. Ini mencakup ilmu berupa Allah akan memberikan ilmu ilmu kepada manusia taqwa yang tidak Allah berikan kepada orang lain, karena taqwa akan menghasilkan tambahan hidayah, tambahan ilmu, dan tambahan hafalan. Oleh karena itu ada sebait sya’ir dari Imam Syafii Rahimahullah :
Aku mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku
Lalu dia membimbingku agar aku meninggalkan maksiat
Dan berkata,” ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya
Dan cahaya Allah tak akan diberikan kepada orang yang maksiat.”
Tidaklah diragukan lagi bahwa seorang manusia , setiap kali bertambah ilmunya bertambah pula ma’rifat dan kemampuannya dalam membedakan antara yang haq dan yang batil, yang madharat dan yang manfaat.. Juga mencakup pemahaman yang akan Allah bukakan baginya, karena taqwa merupakan penyebab kuatnya pemahaman dan kuatnya pemahaman akan menghasilkan tambahan ilmu. Anda lihat dua orang yang menghafalkan beberapa ayat dari kitab Allah, salah satu diantaranya mampu mengeluarkan 3 hukum dari ayat-ayat itu, sedangkan yang lain bisa menghasilkan lebih dari itu tergantung kemampuan pemahaman yang Allah berikan kepada mereka.
Maka taqwa merupakan sebab bertambahnya pemahaman, termasuk juga dalam hal ini frasat, artinya Allah akan memberikan firasat kepada orang yang bertaqwa yang membuat dia unggul dari yang lainnya. Maka hanya dengan melihat orang lain dia akan mengetahui apakah orang ini pendusta atau jujur, baik atau jahat. Kadang-kadang dia mampu menilai seseorang walaupun belum pernah bertemu dan belum mengetahui apapun tentang orang itu karena firasat yang Allah berikan kepadanya.
Faidah kedua : “Dan menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian dari diri kalian.” (An Anfal : 29). Terhapusnya dosa terjadi karena amal-amal salih, karena amal salih bisa menghapuskan amal-amal salah sebagaimana Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :” Shalat yang lima waktu, jumat ke jumat, Ramadhan-ramadhan, menghapus dosa-dosa antara keduanya selama dijauhinya dosa-dosa besar.”[2]
Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :” Umrah ke umrah penghapus dosa antara keduanya.”[3] Jadi terhapusnya dosa disebabkan oleh amal salih. Ini berarti bahwa bila manusia bertaqwa kepada Allah maka Allah akan memudahkan baginya untuk melakukan amal salih yang menyebabkan Allah menghapus kesalahan-kesalahan orang itu.
Faidah ketiga : ” Dan Allah mengampuni dosa-dosamu.” Dengan cara memudahkan bagi kalian untuk istighfar dan tobat karena ini adalah termasuk nikmat Allah atas seorang hamba . (Bersambung)
Diterjemahkan dari Kitab Al-Ilmu Karya Syaikh Al-Utsaimin Rohimahulloh
[1] Dikeluarkan oleh Tirmidzi, kitab jum’at.
[2] Dikeluarkan oleh Muslim, kitab thaharah, baba Shalat yang lima waktu, juma ke jumat, Ramadhan ke ramadhan adalah penghapus dosa antara keduanya selama dijauhinya dosa-dosa besar.
[3] Dikeluarkan oleh Bukhari, kitab umrah. Muslim, kitab haji.
Artikel Yang Berkaitan:
- Beberapa Faktor Yang Bisa Menolong Dalam Mencari Ilmu (2)
- Beberapa Faktor Yang Bisa Menolong Dalam Mencari Ilmu (3)
- Beberapa Kesalahan Yang Wajib Dijauhi ( Dalam Menuntut Ilmu) 2
- Beberapa Kesalahan Yang Wajib Dijauhi ( Dalam Menuntut Ilmu) 4
- Beberapa Kesalahan Yang Wajib Dijauhi ( Dalam Menuntut Ilmu) 3

Ass. Kang ustadz, mugi Allah maparin rahmat ka akang. Artikel perkawis ilmu, anu 8, ku latief di copy. Nuhun-Jazaakallooh. Wilujeng. Wass.