Fatwa-Fatwa Sekitar Ilmu (13)
Jun 29th, 2009 | By Abu Haidar | Category: Fatwa-Fatwa, Ilmu26. Syaikh ditanya :
Saya seorang penuntut ilmu dan keluarga saya mempunyai beberapa jenis usaha, lalu ayah saya berkata kepada saya :” Bekerjalah untuk kami maka itu lebih utama dari pada mencari ilmu. Apakah saya harus meninggalkan belajar ilmu ataukah bekerja untuk keluarga lebih utama ?
Beliau menjawab :
Tidak diragukan lagi bahwa mencari ilmu adalah lebih utama kecuali dalam keadaan darurat akan tetapi bisa dipadukan antara keduanya terutama dalam masalah ekonomi -alhamdulillah- bahwa kebanyakan manusia telah diluaskan oleh Allah, sehingga memungkinkan bagimu untuk memenuhi kebutuhan keluargamu.Jadi menikahlah dengan seorang wanita yang memiliki harta sehingga engkau bisa terus mencari ilmu.
27. Syaikh ditanya :
Kami para mahasiswa menghafalkan banyak ayat-ayat Al Quran berdasarkan tuntutan pelajaran, tapi di akhir tahun kami banyak melupakan ayat-ayat tersebut. Apakah kita termasuk dalam hukum orang yang disiksa karena melupakan apa yang telah dihafal ?
Beliau menjawab :
Melupakan Al Quran ada dua sebab. Pertama, karena pembawaan tabiat. Kedua, karena berpaling dari Al Quran dan tidak punya perhatian terhadapnya. Sebab pertama tidak mengakibatkan manusia berdosa dan mendapat siksa. Hal inipun pernah menimpa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam ketika beliau shalat dengan manusia dan lupa terhadap beberapa ayat. Maka setelah selesai shalat beliau diingatkan oleh Ubay Bin Ka’ab, maka berkatalah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam kepadanya :” Mengapa tidak dari tadi engkau mengingatkan aku ?”[1] Suatu saat Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Salam mendengarkan seseorang membaca Al Quran, lalu beliau berkata :” Semoga Allah merahmati si Fulan karena dia telah mengingatkan aku tentang ayat yang aku telah lupa.”[2]Ini semua menunjukkan bahwa lupa yang terjadi karena tabiat (pembawaan) secara wajar maka hal ini tidak tercela bagi manusia.
Adapun lupa yang disebabkan karena berpaling dan tidak punya perhatian terhadapnya maka ini berdosa. Sebagian orang telah tertipu dan tergoda oleh syetan agar tidak menghafalkan Quran karena takut lupa sehingga berdosa. Allah telah berfirman :
فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
” Maka perangilah wali-wali syetan, sesungguhnya tipu daya syetan itu amat lemah.”(an Nisa : 76).
Jadi hendaklah manusia menghafalkan Quran karena hal itu baik dan berusahalah untuk tidak lupa, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tergantung kepada sangkaan hambanya kepada-Nya. Contoh yang serupa dengan hal itu adalah istidlal (pengambilan dalil) yang dilakukan oleh sebagian orang tentang firman Allah :
لاَ تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ
” Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu yang apabila dijelaskan kepada kalian akan menyusahkan kalian.” (Al Maidah : 101)
Lalu karena ayat ini mereka tidak mau bertanya dan tidak belajar. Padahal hal ini terjadi pada zaman turunnya wahyu dan waktu ditetapkannya syariat. Sebagian orang telah bertanya tentang masalah yang dibiarkan oleh Allah lalu karena pertanyaan itu Allah menjelaskan bagi mereka sehingga hal itu memberatkan kaum muslimin dengan kewajiban atau pengharaman. Adapun sekarang maka tidak ada lagi perubahan dalam penetapan hukum ataupu pengurangan, maka wajiblah bertanya tentang agama.
(Bersambung)
Diterjemahkan dari Kitab Al-Ilmu Karya Syaikh Al-Utsaimin Rohimahulloh
[1] Dikeluarkan oleh Bukhari, kitab keutamaan Quran, bab melupakan Quran.
[2] Ibid.
Artikel Yang Berkaitan:
