Akhlak Yang Baik Dan Pentingnya Hal Itu Bagi Para Penuntut Ilmu (6)
Jul 11th, 2009 | By Abu Haidar | Category: IlmuKetiga : Bersikap ramah/ berseri-seri.
Dengan cara memasang wajah yang berseri-seri. Lawannya adalah memasang wajah yang cemberut. Oleh karena itu Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :
” Janganlah kalian menganggap rendah kepada kebaikan sedikitpun sekalipun dengan memasang wajah yang berseri-seri kepada saudaramu.”[1]
Wajah yang berseri-seri akan memasukkan kegembiraan bagi orang yang bertemu denganmu dan orang yang berhadapan denganmu dan bisa melahirkan cinta dan kasih sayang, serta akan memberikan kelapangan dada, bahkan kelapangan dada bagimu dan bagi orang lain,- cobalah, maka anda akan merasakannya,- akan tetapi jika engkau bermuka cemberut maka manusia akan lari darimu, mereka tidak akan merasa nyaman ketika duduk denganmu atau berbicara denganmu, kadang-kadang akan menimbulkan penyakit yang disebut dengan stress, karena kelapangan dada dan wajah yang berseri-seri termasuk terapi pencegah penyakit stress ini. Oleh karena itu para dokter menyarankan kepada orang yang terkena penyakit ini untuk menjauhi hal-hal yang bisa membangkitkan emosi dan kemarahan karena hal itu akan menambah penyakitnya. Jadi wajah yang ramah akan menghilangkan penyakit ini karena seseorang akan lapang dadanya dan dicintai oleh manusia.
Inilah tiga hal yang pokok yang menjadi poros dari akhlak yang baik dalam bergaul dengan sesama manusia.
Diantara hal yang perlu diketahui dari akhlak yang baik adalah baiknya sikap dalam bergaul dengan kawan bergaul, baik teman, kerabat ataupun keluarga dengan cara tidak saling memberi rasa sumpek, tapi harus memberi rasa gembira semampu mungkin dalam batas syariat Allah. Batasan ini harus ditetapkan sebatas syariat Allah karena diantara manusia tidak akan merasakan kegembiraan kecuali dengan bermaksiyat kepada Allah, Wal Iyyadzu Billah ! Ini tidaklah kita setujui.
Akan tetapi memberikan kegembiraan kepada orang yang berhubungan denganmu baik keluarga, teman, ataupun kerabat adalah termasuk akhlak yang baik. Oleh karena itu Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :
” Sesungguhnya sebaik-bauk kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian kepada keluargaku.”[2]
Kebanyakan manusia, amat disayangkan, berakhlak baik kepada manusia, akan tetapi dia tidak berakhlak baik kepada keluarganya. Ini adalah salah dan terbalik. Bagaimana engkau akan berakahlak baik kepada orang yang jauh dan berakhlak jelek kepada orang yang dekat ? Kerabat (orang yang dekat ) manusia yang paling berhak untuk mendapat perlakuan dan pergaulan yang baik darimu. Oleh karena itu pernah seseorang bertanya :
” Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk mendapat perlakuan yang baik dariku ?” Beliau menjawab :” Ibumu !” Dia bertanya lagi :” Lalu siapa ?” Beliau menjawab :” Ibumu !” Dia bertanya lagi :” Lalu siapa ?” Beliau menjawab :” Ibumu !” Dia bertanya lagi :” Lalu siapa ?” Beliau menjawab Bapakmu!”[3]
Walhasil, sesungguhnya baiknya pergaulan kepada keluarga, sahabat, dan kerabat, semua itu merupakan bagian dari kebaikan akhlak. Maka pada musim panas ini kita harus memanfaatkan keberadaan para pemuda untuk membiasakan mereka di atas akhlak yang baik agar moment ini menjadi moment untuk pengajaran dan pendidikan, karena ilmu tanpa tarbiyah (pendidikan) kadang-kadang madharatnya bisa lebih besar daripada manfaatnya.. Akan tetapi bila disertai dengan tarbiyah maka ilmu bisa mencapai hasil yang dimaksud. Oleh karena itu Allah berfirman :
” Tidaklah pantas bagi manusia yang Allah telah memberikan kitab dan hikmah dan kenabiyan kepadanya kemudian berkata kepada manusia : Jadilah hamba-hambaku selain Allah. Akan tetapi jadilah robbani karena kamu selalu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya.” (QS Ali Imran : 79).
Inilah faidah ilmu, yaitu agar manusia menjadi seorang robbani dengan arti seorang pendidik hamba-hamba Allah di atas syariat Allah.
Inilah beberapa point yang kita berharap mampu dilaksanakan dan menjadikan hal ini sebagai medan berlomba dalam akhlak yang utama. Akhlak yang baik bisa berupa tabiat bisa juga berupa hasil membiasahan diri -seperti yang sudah dijelaskan pada kesempatan yang lalu- dan kebaikan akhlak yang berupa tabiat lebih sempurna dari pada akhlak hasil membiasakan diri. Kita akan berikan dalil tentang hal itu, yaitu ucapan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam :” Bahkan Allah telah menciptakan kamu di atas dua akhlak itu.“[4] Sedangkan akhlak hasil membiasakan diri dalam beberapa keadaan tertentu kadang-kadang bisa luput karena kebaikan akhlak hasil membiasakan diri membutuhkan ikhtiar, dukungan, dan perenungan ketika menghadapi kejadian yang menimpa manusia. Oleh karena itu ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dan berkata :” Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat !” Beliau menjawab : “Janganlah kamu marah !” Orang itu mengulang pertanyaannya berkali-kali dan beliau menjawab ” Janganlah kamu marah!”[5] Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam pun pernah berkata :” Orang yang kuat itu bukanlah orang yang kuat berkelahi, tetapi orang yang kuat itu orang yang mampu menahan diri ketika marah.”[6]
Apakah arti menang dalam berkelahi ? Yaitu orang yang mengalahkan orang lain ketika berkelahi.
Orang yang kuat bukanlah yang kuat dalam berkelahi artinya berkelahi dan mengalahkan manusia, akan tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu menahan diri ketika marah. Orang yang melawan dirinya dan menaklukannya ketika marah itulah orang yang kuat. Kemampuan seseorang dalam menahan diri ketika marah dianggap sebagai bagian dari kebaikan akhlak. Maka apabila engkau marah janganlah engkau lampiaskan kemarahanmu. Berlindunglah kepada Allah dari godaan syetan yang dikutuk. Bila saat itu engkau sedang berdiri maka duduklah, dan apabila engkau sedang duduk maka berbaringlah, dan bila kemarahanmu bertambah maka berwudhulah sehingga kemarahanmu itu hilang dari dirimu.
Maksud dari semua itu kita katakan : Sesungguhnya kebaikan akhlak itu ada yang berupa tabiat ada pula yang berupa hasil membiasakan diri. Dan kebaikan akhlak yang berupa tabiat adalah lebih utama karena hal itu merupakan karakter pembawaan manusia dan mudah dalam mengaplikasikannya dalam setiap keadaan. Akan tetapi akhlak yang berupa hasil membiasakan kadang-kadang hilang dalam beberapa keadaan tertentu.
Juga kita katakan bahwa kebaikan akhlak bisa berupa hasil ikhtiar dengan arti bahwa manusia melatih dirinya. Bagaimanakah seseorang bisa berakhlak baik ? Seseorang bisa berakhlak baik dengan hal-hal sebagai berikut :
Pertama :
Dengan cara memperhatikan kitab Allah dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam , memperhatikan nash-nash yang menunjukkan terpujinya akhlak yang agung ini. Seoarng mukmin apabila melihat nash-nash yang memuji suatu akhlak atau amalan maka dia pasti akan mengamalkannya.
Kedua :
Bergaul dengan orang-orang yang baik dan sholeh yang terpercaya dalam amal dan amanahnya. Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda :
” Perumpamaan kawan bergaul yang baik dan yang jelek adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Kamu tidak akan kehilangan keuntungan dari penjual minyak wangi. Mungkin kamu bisa membelinya atau bisa mencium wanginya. Sedangkan tukang pandai besi, mungkin akan membakar badanmu atau pakaianmu atau kamu akan mencium bau busuknya.” [7]
Oleh karena itu hai para pemuda, kalian harus bergaul dengan orang-orang yang kalian kenal kebaikan akhlaknya dan jauh dari kejelekan akhlak dan keburukan amal sehingga kalian bisa mengambil pelajaran dari kawan seperti ini dan menjadi pendorong bagi kebaikan akhlak.
Ketiga :
Hendaklah manusia berpikir apa akibat buruk yang ditimbulkan oleh akhlak yang jelek. Akhlak yang jelek itu amat dibenci, dijauhi dan disebut dengan sebutan-sebutan yang buruk. Maka apabila seseorang tahu bahwa keburukan akhlak bisa mengakibatkan hal ini maka pasti dia akan menjauhkan diri dari hal itu.
Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang berpegang teguh kepada kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya Shalallahu ‘Alaihi wa Salam baik lahir maupun batin dan mewafatkan kita di atas hal itu dan melindungi kita dunia akhirat dan tidak menyesatkan hati kita setelah Dia memberi hidayah kepada kita dan memberikan rahmat-Nya kepada kita sesungguhnya Dia Maha Pemberi.
Diterjemahkan dari Kitab Al-Ilmu Karya Syaikh Al-Utsaimin Rohimahulloh
[1] Dikeluarkan oleh Muslim, kitab kebaikan, bab sunnahnya memasang wajah yang berseri-seri ketika bertemu.
[2] Dikeluarkan oleh Imam Ahmad juz 2 halaman 250-472. Ibnu Majah, kitab nikah,bab bersikap baik kepada wanita. Al Haitsami juz 4 halaman 302-303.
[3] Dikeluarkan oleh Bukharai,kitab adab, bab orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan yang baik. Muslim, kitab kebaikan dan silaturrahim,bab berbuat baik kepada orang tua.
[4] Ucapan ini ditujukan kepada Al Asyja Bin Qis. HR Muslim.
[5] Dikeluarkan oleh Bukhari, kitab Adab, bab larangan marah.
[6] Dikeluarkan oleh Bukhari, kitab Adab, bab larangan marah. Muslim, kitab kebaikan dan silaturrahmi, bab keutamaan orang yang mampu menahan diri pada saat marah.
[7] Dikeluarkan oleh Bukhari, kitab jual beli, bab pemakai minyak wangi dan penjualnya.
Artikel Yang Berkaitan:
- Akhlak Yang Baik Dan Pentingnya Hal Itu Bagi Para Penuntut Ilmu (1)
- Akhlak Yang Baik Dan Pentingnya Hal Itu Bagi Para Penuntut Ilmu (4)
- Akhlak Yang Baik Dan Pentingnya Hal Itu Bagi Para Penuntut Ilmu (2)
- Akhlak Yang Baik Dan Pentingnya Hal Itu Bagi Para Penuntut Ilmu (3)
- Akhlak Yang Baik Dan Pentingnya Hal Itu Bagi Para Penuntut Ilmu (5)

good tapi ya susah menerapkannya dalam kehidupan kang.
assalamu’alaikum….
kang punteun…artikeulna ku abdi di copy…kumargi peryogi kanggo ngarengsekeun tugas ti pun guru…
nyuhunkeun widi na..haturnuhun sateuacanna…
nuhun kanggo elmuna…
wassalam….
Ass. Kang ustadz, sadaya artikel akhlaq para pencari ilmu ieu (6 artikel) ku latief di-copy. Nyuhunkeun widi…jazaakallooh.