Fatwa-Fatwa Sekitar Ilmu (16)

Jul 14th, 2009 | By Abu Haidar | Category: Fatwa-Fatwa, Ilmu

32. Syaikh ditanya :

Saya seorang mahasiswa dan sangat ingin mencapai nilai yang tinggi serta prestasi yang istimewa, akan tetapi niat saya baik. Bagaimana pendapat Anda tentang perasaan bangga dengan nilai yang tinggi  dan merasa kecewa dengan nilai yang rendah. Apakah ini bisa merusak keikhlasan ?

Beliau menjawab :

Yang jelas, insya Allah, hal ini tidaklah merusak keikhlasan karena hal ini perkara yang wajar bahwa seorang manusia  merasa gembira dengan kebaikan dan merasa sedih dengan kejelekan. Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa segala sesuatu  yang tidak diinginkan penamaannya oleh manusia berupa kejelekkan, maka pastilah hal itu akan membuat sedih, demikian pula kebaikan akan membuat bahagia. Maka hal ini tidak berpengaruh terhadap keikhlasanmu apabila urusannya seperti yang engkau katakan yaitu engkau mempunyai niat yang baik. Adapun bila tujuanmu hanya prestasi atau ijazah maka ini perkara lain. Inilah contohnya Abdullah Bin Umar Bin Khathab Radhiyallahu ‘Anhu , ketika Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam melontarkan satu masalah kepada para sahabat bahwa diantara pepohonan ada sejenis pohon yang serupa dengan seorang mukmin, maka para sahabat membicarakan bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon-pohon sahara. Berkatalah Ibnu Umar :” Di dalam hatiku tersirat bahwa itu adalah pohon kurma akan tetapi saat itu aku masih kecil maka aku tidak ingin mengatakannya.”[1] Umar Radhiyallahu ‘Anhu berkata kepada  anaknya :” Saya sangat senang bila engkau mengatakannya.” Hal ini menunjukkan bahwa kebanggaan seseorang terhadap keberhasilannya dan yang semisalnya tidaklah memadharatkan.

33. Syaikh ditanya :

Kitab tafsir Al Quran manakah yang Anda nasihatkan untuk dibaca ? Tentang menghafalkan Quran, bila seseorang hafal, lalu lupa apakah ada ancaman bagi orang itu ? Bagai manakah cara menghafal Quran dan cara memelihara hafalan ?

Beliau menjawab :

Al Quran dan ilmunya itu bermacam-macam. Semua ahli tafsir menafsirkan Al Quran dengan satu aspek yang dia ketahui tentang ilmu ini , tidak mungkin ada satu tafsir yang menafsirkan Quran dari semua aspek. Diantara ulama ada yang memfokuskan tafsirnya kepada tafsir atsary artinya dia lebih mendahulukan keterangan dari sahabat dan tabiin seperti Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir. Diantara mereka ada pula yang memfokuskan kepada tafsir teori seperti Zamakhsary dan yang lainnya. Akan tetapi saya melihat bahwa menafsirkan ayat pertama kali oleh diri sendiri artinya dia mengulang-ulang dalam diri sendiri  bahwa inilah makna ayat , kemudian setelah itu dia merujuk kepada apa yang ditulis oleh para ulama tentang ayat tersebut karena hal ini akan memberi manfaat kepadanya untuk menjadi kuat dalam hal tafsir tanpa menyalahkan yang lain. Kalam Allah U itu sejak diutusnya Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Salam sampai sekarang :

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ

” Dengan bahasa Arab yang jelas.”(Asy-Syu’araa’ : 195)

Sekalipun wajib merujuk kepada tafsir para sahabat karena mereka adalah orang yang paling mengetahui tentang maknanya kemudian kepada kitab-kitab ahli tafsir dari kalangan tabiin, akan tetapi tak ada seorangpun yang memahami kalamullah semuanya. Maka yang saya lihat bahwa cara terbaik adalah seseorang harus mengulang-ulang tafsir ayat oleh diri sendiri kemudian setelah itu  dia menelaah ucapan para ahli tafsir, maka apabila dia menemukan bahwa tafsirannya sesuai dengan para mufassir maka hal ini  termasuk hal yang memungkinkan dia menafsirkan Quran dan memudahkan dia untuk itu, dan bila dia menemukan bahwa tafsirannya menyimpang  dia harus rujuk kepada yang benar.

Adapun menghafal Al Quran maka cara menghafal seseorang berbeda dengan orang lain. Sebagian orang ada yang menghafal Quran seayat demi seayat dalam arti dia menghafalkan ayat yang dia baca lalu dia ulang-ulang dua atau tiga kali sehingga dia menghafalkannya kemudia dia menghafalkan ayat berikutnya kemudian meneruskannya sampai seperdelapan atau seperempat juz atau selainnya. Sebagian lagi ada yang membaca sampai seperdelapan sekaligus lalu mengulang-ulang sehingga menghafalkannya. Hal yang seperti ini tidak mungkin  kita menetapkan kaidah umum tentangnya, maka kita katakan  bahwa manusia harus memakai cara yang dia pandang sesuai dengan dirinya dalam menghafal Quran.

Akan tetapi yang penting bahwa engkau harus mengetahui makna yang engkau hafalkan setiap engkau ingin merujuk kepadanya. Dan hal terbaik yang saya lihat tentang ilmu adalah  bahwa bila seseorang menghafalkan sesuatu pada hari ini maka keesokan harinya pagi-pagi sekali dia harus membacanya kembali karena hal ini akan sangat banyak membantu untuk memelihara hafalan yang sudah dihafal pada hari kemarin. Inilah yang saya lakukan  karena hal ini amat membantu untuk menghafal yang baik.

Adapun ancaman bagi orang yang lupa, Imam Ahmad mengatakan amat berat ancaman bagi hal itu artinya menghafal ayat lalu melupakannya. Maksud hal itu adalah bagi orang yang berpaling dari ayat tersebut sehingga meninggalkannya. Adapun orang yang lupa terhadap ayat karena sebab yang wajar atau karena sebab-sebab yang menjadi kewajiban yang menyibukkannya maka ini tidak termasuk dosa.

لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

” Allah tidak akan membebani suatu jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya.” (Al Baqarah : 268).

Ada keterangan dari Nabi  Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bahwa beliau shalat bersama para sahabatnya, lalu dia lupa tentang satu ayat, lalu diingatkan oleh seorang sahabat setelah selesai shalat, lalu beliau berkata :” Mengapa tadi engkau tidak mengingatkan aku ?” Maka seorang manusia yang melupakan karena menganggap enteng dan berpaling  dari ayat tersebut maka tidak diragukan lagi bahwa dia rugi dan berhak mendapat dosa. Adapun yang lupa karena kewajiban yang Allah wajibkan kepadanya atau karena lupa yang wajar maka dia tidak berdosa sedikitpun.

(Bersambung)

Diterjemahkan dari Kitab Al-Ilmu Karya Syaikh Al-Utsaimin Rohimahulloh


[1] Dikeluarkan oleh Bukari, kitab ilmu, bab ucapan seorang muhaddis haddatsana atau akhbarona, atau anba-ana. Muslim,kitab sifat munafiq dan hukumnya, bab perumpamaan seorang mukmin seperti pohon kurma. Lafadznya :” Sesungguhnya diantara pohon ada sebuah pohon yang tidak gugur daunnya. Hal itu persis seperti seorang muslim, maka katakan kepadaku pohon apakah itu ?” Maka orang-orang menyimpulkan pohon sahara. Berkata Abdullah :” tersiratlah dalam hatiku bahwa itu pohon kurma tapi saat itu aku masih kecil. ” Lalu para sahabat bertanya :” Beritahukan kepada kami pohon apakah itu wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab :” Pohon kurma.”

Artikel Yang Berkaitan:

  1. Fatwa-Fatwa Sekitar Ilmu (13)
  2. Fatwa-Fatwa Sekitar Ilmu (8)
  3. Fatwa-Fatwa Sekitar Ilmu (9)
  4. Fatwa-Fatwa Sekitar Ilmu (7)
  5. Fatwa-Fatwa Sekitar Ilmu (12)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>